Satria Ramadhan: Support system bagi musisi indie Jakarta

Satria Ramadhan at Brittour 2023

Kecintaan terhadap skena gig musik indie jakarta era 90’an akhir serta fotografi membuka pintu serta wawasannya terhadap industri musik. Melalui pengalamannya yang selalu hadir dalam sebuah gig musik pada akhirnya mengubah posisi, yang awalnya hanya sebagai penikmat musik di depan panggung kini beralih menjadi sosok yang lebih dominan dalam urusan manajerial sebuah gig bahkan musisi juga, adalah Satria Ramadhan sosok yang sedang dibincangkan, memulai karirnya menjadi juru foto dalam tubuh band Ballads of the cliche  hingga akhirnya sekarang malang melintang menjadi seorang manajer, inisiator sebuah event tahunan bahkan menjadi pembicara perihal musik. Versi lengkap bagaimana Satria berkiprah dalam dunia musik bisa kalian simak di bawah ini. 

Halo Satria, apa kabar? Lagi sibuk ngerjain apa nih?

Halo! Saat ini saya sedang mengerjakan tur ke tiga music conference di UK, Sound City di Liverpool, Focus Wales di Wrexham dan The Great Escape di Brighton. Paralel ngerjain beberapa project lainnya seperti Record Store Day tahun ini yg baru saja berlangsung 6-7 mei kemarin di Pasaraya Blok M. Selain itu mengurusi beberapa plan band-band SRM aja sih palingan.

 

Bisa diceritakan awal mula membentuk SRM dan terjun ke dunia musik?

Awalnya, sekitar tahun 1999, saya mulai suka datang ke gig-gig di Jakarta, saat itu saya masih SMA. Lalu mulai belajar foto saat kuliah, dan rajin ke gig-gig independent kayak Monday Mayhem & Thursday Riot di Parc, gig di BB’s, Pensi yang nampilin banyak band-band independent baru pada saat itu.

Saya suka fotoin band-band yang main dan sampai pada akhirnya saya dikasih kesempatan untuk menjadi Fotografer resmi band Indiepop bernama Ballads of the Cliché (2005). Bagi saya, momen iniah yang menjadi starting point saya terjun ke dunia musik independent sampai saat ini. 

Karena berhubung saya gak bisa megang alat musik apapun sama sekali, maka saya menekuni bagian dibelakang layarnya, Menjadi manajer, ngurusin tur, bikin event dan sampai ke momen, teman-teman satu circle ngasih ide, untuk bikin satu entitas dan tercetuslah SRM.

 Satria Ramadhan at Brittour 2023

Adakah sosok yang menginspirasi dan sehingga serius mendalami dunia musik?

Banyak banget, tapi kalo sosok manajer musik, bisa dibilang Indra Ameng (Manajer WSATCC), Felix Dass (ex Manajer Ballads of the Cliché) dan Wendy Putranto (Manajer Seringai). Saya banyak belajar dari apa yang mereka perbuat pada saat awal memulai membentuk SRM ini.

 

Apakah dari awal memang fokus untuk menjadi support system kepada musisi? atau pernah mencoba fokus menjadi musisi.

Karena berhubung saya gak bisa megang alat musik apapun sama sekali, maka saya menekuni bagian dibelakang layarnya, Menjadi manajer, ngurusin tur, bikin event dan sampai ke momen, teman-teman satu circle ngasih ide, untuk bikin satu entitas dan tercetuslah SRM.

 

Oh iya, SRM kepanjangannya Senang rasanya membantu? saya kira Satria Ramadhan Management atau Satria Ramadhan Music haha

Haha iyatuh, dulu anak2 yang ngasih ide, SRM Satria Ramadhan Management, biar kayak Contoh Management kelakar mereka. Karena sudah kadung tersebar Namanya dan bahkan sampai saat ini pun masih ada yang nyebut kepanjangannya itu, haha. 

Tapi saya gak kepingin kesannya Company ini tentang apa yang saya kerjakan nantinya. Jadilah saya mempublikasikan kepanjangan lain, Mulai dari “Simple, Ramah, Memuaskan” dan sekarang menjadi “Senang Rasanya Membantu”. Jargon ini rasanya sangat pas dengan apa yang saya kerjakan saat ini sebagai Booking Agent, Gig Organizer dan Tour Planner.

 

Bisa disebutkan roster awal SRM? bagaimana cara meyakinkan mereka agar mau bergabung? apakah pernah menerima penolakan atau bahkan kesulitan dalam melobi musisi?

Roster Awal SRM bisa dibilang band-band yang pertama kali saya Manajerin. Band pertama yang saya manajerin adalah thedyingsirens, Arcade Playmate dan Earth Colony. Lalu tahun 2008 saya menggantikan posisi Felix Dass, menjadi manajer Ballads of the Cliché, band yang menjadi starting point karir saya.

Lalu 2010, saya ditawari oleh Ade Paloh dan Mondo Gascaro (pada saat itu masih formasi awal) untuk menjadi Manajer SORE. Lalu sisanya, kebanyakan band-bandnya yang datang langsung dan mengajukan diri untuk bergabung, seperti Leonardo (and His Impeccable Six), The Experience Brothers, bangkutaman, dan rumahsakit. Hanya ada 1 band yang benar benar saya menawarkan diri untuk menjadi manajernya pada saat itu, yaitu L’Alphalpha, karena kebetulan memang suka sama materi dan konsep musiknya.

 

Panggung paling berkesan bersama band SRM? kenapa?

Waduh ini banyak banget sih, hampir semua panggung berkesan bagi saya. Tapi kalo bisa disebut salah dua-nya, mungkin menurut saya adalah saat SORE manggung di Clockenflap Hongkong tahun 2013, ini karena pada saat itu kita memang sedang down paska ditinggal Mondo Gascaro, tapi Alhamdulillah ada gig penyemangat ini, ditambah saat itu SORE sedang merilis single baru ‘Sssst…” yang menjadi salah satu lagu hits mereka hingga saat ini. 

Lalu yang kedua adalah saat L’Alphalpha diundang manggung ke India tahun 2017. Ini adalah momen yang langka mengingat India adalah negara yang unik dan belum pernah terbayang sebelumnya untuk bisa dapet gig disana. Mereka main di New Delhi dan Jaipur, dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari penonton.

 

Masih keep up dengerin musisi masa kini?

Masih dan harus. Karena saya harus keep up dengan tren musik generasi sekarang, yang walaupun agak-agak mirip dengan generasi generasi sebelumnya. Ini untuk memudahkan pekerjaan saya dalam memetakan strategi musik dan lainnya.

 

Tanggapan perihal era digital yang berpengaruh dalam dunia musik? baik yang di belakang layar, atas panggung bahkan dalam manajemen pengelolaan musisi.

Music Digital gak bisa dipungkiri telah menjadi kebutuhan sehari-hari, bahkan buat saya yang doyan rilisan fisik. Jadi keberadaannya gak akan bisa dihindari, malah harus digandeng terus. Banyak kok musisi-musisi lama yang tadinya gak menyukai rilis digital, akhirnya mengambil Langkah rilis digital. 

Bagi saya, rilisan digital adalah salah satu peluru jitu untuk mempromosikan musik kita, terutama untuk generasi sekarang. Data statistiknya Berguna banget untuk memetakan pendengar, mulai dari data wilayah, usia, gender dan lain-lainnya.

 

Satria Ramadhan Brittour 2023

Bisa diceritain tentang "Brittour" dan awal mulanya? kegiatan dan ada misi serta aktivasi apa saja disana?

Ok jadi mengenai Brittour 2023 ini tercetus awalnya dari temenku sesama Co-Founder ASEAN Music Showcase Festival, itu festival yang lagi aku handle belakangan ini, berkonsep music conference dan showcase skala Asia Tenggara. Kita mulai dari tahun 2020 (online karena pandemic), lalu bulan September 2022 kemarin, kita bikin offline perdana di Haw Par Villa, Singapura. 

Hasilnya cukup baik dan mendatangkan kesempatan-kesempatan untuk berkoneksi dengan Konferensi Musik lain. Lalu Temenku tadi, Piyapong (Py) dari Thailand, dia mengontak organizer Liverpool Sound City untuk mencoba peruntungan, minta slot untuk punya stage khusus Musisi-musisi Asia tenggara di event tersebut. Lalu alhamdulillah di approved, dengan catatan semua pembiayaan ditanggung sendiri. Lalu karena belum dapat sponsor yang mau mensponsori ASEAN Stage ini, akhirnya rencananya batal. Tapi mereka tetap mengundang kita untuk datang. Lalu masing-masing dari kita mengontak British Council, sebuah Lembaga non komersil UK yang ada hampir di setiap negara, untuk meminta support. 

Dan Alhamdulillah, mereka mau mesupport kami berdua untuk berangkat ke UK, tapi hanya untuk Liverpool Sound City saja. Lalu, ternyata ada beberapa Konferensi Musik yang diadakan di minggu-minggu setelah Event Liverpool Sound City ini, yaitu Focus Wales dan The Great Escape. Lalu tercetus lah ide untuk mendatangi kesemuanya, berhubung sedang disana (UK). Saya menamakan tur ini #Brittour2023 dengan harapan akan berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Satria Ramadhan Brittour 2023

Misinya, jelas untuk mempromosikan Musisi Asia Tenggara khususnya Musisi Indonesia. Saya membawa beberapa Profile Kit band-band Indonesia untuk dibagikan di UK. Lalu Aktivasinya selain menghadiri setiap diskusi panel di setiap eventnya, saya dan beberapa teman-teman lainnya dari Asia menjadi Pembicara untuk Diskusi Panel “Access to Asia” di Focus Wales, 5 Mei kemarin. Lalu Aktifitas lainnya, saya membawa Vinyl Band-Band Indonesia dan memutarnya di Record Store di London (Dash the Henge). Selain itu, networking, berkenalan dengan banyak orang yang bekerja di Industri music dari seluruh dunia.

 

Berbicara soal Inggris, apakah kultur disana mempengaruhi terhadap referensi baik musik dan gaya dalam keseharian?

Bisa dibilang iya dan tidak. Banyak juga sih yang saya lihat disini, mereka bergaya dengan atribut musik tertentu tapi gak dengerin musiknya. Tapi ya mostly relate sih antara musik yang mereka dengarkan dengan apa yang mereka pakai. Contohnya, saat saya ke Liverpool Mod weekender kemarin, gaya penontonnya sih hampir semua bergaya Kultur Mods, baik yang muda maupun tua.

 Satria Ramadhan Brittour 2023

Konser musik terbaik yang pernah didatangi, kenapa?

Wah ini juga banyak banget haha. Tapi saya bagikan list Festival favorit saya aja ya :

  1.     Fuji Rock Festival (Jepang)
  2.     Clockenflap (Hongkong)
  3.     Laneway Festival (Singapore – RIP)
  4.     Joyland Festival (Indonesia)
  5.     Perth Festival (Perth)

 

Satria Ramadhan at Brittour 2023

5 musisi/band UK favorit?

1.  Manic Street Preachers (Blackwood, Wales)    

2.  Belle and Sebastian (Glasgow, Scotland)

3.  The Stone Roses (Manchester, England)

4.  The Smiths (Manchester, England)

5.  The Specials (Coventry, England)

 

This or that :

- Vespa/Lambreta?  Vespa

- Parka/Harington?  Parka

- Jeans/Chino?  Chino

- Clarks/Martens? Clarks

- Blur/Oasis? Blur

Shop now